Jika Esok Tak Pernah Datang

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu terlelap tidur, Aku akan menyelimutimu dengan lebih rapat dan berdoa kepada Tuhan agar menjaga jiwamu.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu melangkah keluar pintu, Aku akan memelukmu erat dan menciummu dan memanggilmu kembali untuk melakukannya sekali lagi.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kudengar suaramu memuji, Aku akan merekam setiap kata dan tindakan dan memutarnya lagi sepanjang sisa hariku.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya, aku akan meluangkan waktu ekstra satu atau dua menit, Untuk berhenti dan mengatakan “Aku mencintaimu” dan bukannya menganggap kau sudah tahu.

Jadi untuk berjaga-jaga seandainya esok tak pernah datang dan hanya hari inilah yang kupunya,  Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintaimu dan kuharap kita takkan pernah lupa.

Esok tak dijanjikan kepada siapa pun, baik tua maupun muda. Dan hari ini mungkin kesempatan terakhirmu untuk memeluk erat orang tersayangmu.

Jadi, bila kau sedang menantikan esok, mengapa tidak melakukannya sekarang?

Karena bila esok tak pernah datang, kau pasti akan menyesali hari.

Saat kau tidak meluangkan waktu untuk memberikan sebuah senyuman, pelukan atau ciuman. Dan saat kau terlalu sibuk untuk memberi seorang yang ternyata merupakan permintaan terakhir mereka.

Jadi, dekap erat orang-orang tersayangmu hari ini dan bisikkan di telinga mereka, bahwa kau sangat mencintai mereka dan kau akan selalu menyayangi mereka.

Luangkan waktu untuk mengatakan “Aku menyesal”, “Maafkan aku”, Terima kasih”, atau “aku tidak apa-apa”

Dan bila esok tak pernah datang, kau takkan menyesali hari ini.

[Norma Cornett Marek ~ 1989]

– 21 Juni 2015 –
Catatan kecil untuk dia yg telah bahagia bersamanya…

Seharusnya waktu membuatku melupakanmu..
Bukan membuatku semakin menyayangimu…
Ku takut esok benar- benar tak pernah datang..
Aku tak bisa menyampaikannya langsung di telingamu,
Bahkan hanya lewat pesan singkat…
“Aku menyayangimu dan entah sampai kapan”
“Aku menyesal melepasmu dengan yang lain”
“Maafkan aku karena tak bisa berhenti mengharapkan dan menunggumu kembali”
“Terima kasih untuk bahagia yang tak pernah terganti”
“Aku tidak apa-apa, meski kau mengecewakan dan menyakiti hatiku”
Namamu selalu terselip dalam setiap doaku…

Advertisements

Wanita

Seringkali wanita menangis karena pria, entah karena dikecewakan oleh sikapnya, atau dilukai dengan perkataannya, bahkan ditinggalkan.

Ada sebuah renungan yang mungkin sangat berarti untuk dibagikan pada seluruh sahabat agar lebih menghormati dan menghargai wanita.

Suatu hari, seorang pria berdoa dalam keadaan marah dan emosi. Ia sebal pada pasangannya yang seringkali menangis dan memanfaatkan air mata di setiap perdebatannya. Ia bosan. Sungguh bosan.

Tak mau terlibat dalam emosi yang negatif, iapun sujud dan berdoa, meminta pertolongan pada Tuhan.

“Tuhan, mengapa sih wanita sering menangis? Aku bosan dan jenuh melihat dan mendengarnya,” keluh pria itu.

Jawab Tuhan kepadanya:

“Karena wanita itu unik. AKU menciptakannya tidak sama seperti kamu. Ia adalah makhluk yang istimewa.

KU kuatkan bahunya untuk menjaga anak-anakmu kelak.

KU lembutkan hatinya untuk memberimu rasa aman.

KU kuatkan rahimnya untuk menyimpan benih manusia.

KU teguhkan pribadinya untuk terus berjuang saat yang lain menyerah.

KU beri naluri untuk tetap menyayangi walau dikhianati dan disakiti oleh orang yang disayangi.

KU hembuskan kasih sayang agar ia bisa mencurahimu dengan perhatian.

KU buat matanya lentik karena ia akan menjadi jendela kedamaian.

KU buat senyumnya merekah seperti mahkota bunga untuk membuatmu tetap mengingat indahnya dunia.

KU buat tangannya terampil untuk menjagamu agar tak pernah kekurangan.

Tapi jika suatu saat ia menangis.

Itu karena AKU memberikannya air mata untuk membasuh luka batin dan memberikan kekuatan yang baru. Bukanlah sebuah tanda kelemahan dan kekalahan.”

Pria itupun tertegun sejenak. Diambilnya langkah bergegas, dipeluk dan diusapnya air mata di pipi orang yang dicintainya. “Aku akan membantumu menghapus luka batin itu…”

Jadi, jangan pernah menyakiti wanita.

Kemarin kita bertemu…
Meskipun dalam mimpi, aku masih bisa merasakan perasaan yang sama
Kamu hanya meminta maaf karena telah pergi
Perasaan ini masih sama
Aku bahagia karena bisa melihatmu dengan rasa yang sama
Meski hanya dalam mimpi
Air mata ini tertahan
Dengan maafmu, dengan ucapanmu
“Maaf aku pergi meninggalkanmu”
Masih tersisa harap
Karena kau tetap kembali
Meskipun hanya dalam mimpi
Begitu dalam kah kecewa itu, matahariku…
Aku masih merasakan berkas sinarmu
Tapi aku hanya menahan rasa hangat ini
Bukan aku tak peduli
Bukan aku tak ingin berjuang
Bukan aku melepasmu begitu saja
Bukan aku mudah menghapus rasa
Aku tak ingin merusak bahagiamu bersamanya
Aku hanya bisa mendoakanmu…
Maaf…. karena tak bisa berhenti menyayangimu..
Matahariku….

Kecewa itu sederhana…

Kecewa itu sederhana…
Sama seperti orang bilang tentang bahagia…
Kecewa itu hal kecil..
Seperti kita berkomitmen setia pada orang yang akhirnya memohon pada kita untuk melepaskannya…
Kecewa itu…
Sama halnya dengan keputusan dan niat kita untuk terus bertahan dan berjuang untuk seseorang yang kita sayangi saat dia berada pada titik terburuknya..
Tapi, dia memilih orang lain untuk berada di sampingnya
Merasa kalau kita tidak terlalu baik, dan kurang mampu untuk membantunya bangkit…
Kecewa itu hanya satu
Yang memiliki berjuta makna..
Kadang sederhana dan mudah dimengerti..
Kadang rumit dan perlu proses panjang untuk dapat memahami
Bahkan terkadang kita harus menyelami dan mengalami untuk dapat mengerti apa itu kecewa…
Ketulusan tidak pernah mengenal kata kecewa.. yang ada hanya perih, dan ketulusan tak pernah bisa mengatakan kalau itu adalah kecewa…
Jika semesta berpikir ini adalah kecewa, namun baginya ini bukan kecewa…
Ini bentuk lain dari keikhlasan…
Yang akan membawa pada sudut lain sebuah kebahagiaan…