Segelas Kopi di Siang Bolong (Bag. II)

Penikmat kopi tau kan kalau kopi hitam selalu meninggalkan jejak? Iya.. ampas kopi. Mengapa orang berlama-lama meminum kopi yang bahkan hanya secangkir mini? Mengapa tak langsung habiskan saja semuanya? Berjam-jam hanya untuk menghabiskan segelas kopi, rasanya membuang waktu. Tapi tidak kalau kita tau cara menikmati kopi hitam itu.
Saya ini penggila susu, hehe.. tak bisa rasanya berlama-lama kalau untuk susu. Hitungan detik, langsung habis ludes tak bersisa. Saya sendiri agak bingung, kenapa tidak sama perlakuannya untuk si hitam manis ini…
Hmmm…. entah naluri atau aromanya yang menghipnotis, tapi… saya jadi berlama-lama hingga si kopi hitam habis. Mungkin minuman ini perlu masuk dalam daftar minuman favorite saya selain susu dan turunan nya.. 😛
PAHIT itu rasa yang pertama muncul, lupa kalau kopi itu sudah ada gula juga di dalamnya, seteguk pertama, kedua,,, ketiga,,, lidah masih merasa pahit yang kuat. Mungkin karena itu prang perlu waktu lama saat menikmati kopi. Jadi teman yang pas untuk bersantai atau mencari inspirasi. Diperlukan jeda antar tegukan pertama dan kedua, begitu seterusnya. Mungkin membiarkan rasa pahitnya agak samar-samar. Jadi tegukan berikutnya, masih ternikmati sensasi pahit manis si kopi hitam.
Anehnya, saat hampir habis kopi hitam, kenapa rasa manis menjadi lebih kuat dari pahit. Mulai terasa giung kata orang Jerman van Java… hehee… tapi, ada yang tertinggal disana, didasar gelas. Seperti pasir laut yang tersapu ombak.
Pasti tertinggal mengiring di tepian pantai
Hahaa…. lebay yahhh…. tapi iyah, hampir seperti itu,
Ampas kopi hitam
Rupanya, berlama-lama bukan hanya untuk membiasakan lidah dengan pahitnya, tapi ampasnya ikut mengendap…
Tertinggal di dasar gelas. Rupanya rasanya kurang ramah di lidah. Kasar dan apa yah… ya begitulah.. coba saja sendiri.. 😀 ada yang suka, ada yang tidak, ada yang membuangnya begitu saja, ada yang meminumnya hingga tak bersisa…
Jadi terlintas berbagai macam hal karena si ampas
Manusia hampir mirip seperti kopi hitam
Proses kehidupan yang dijalani, pahit manis… ternikmati
Tapi semua tingkah laku pola lisan meninggalkan ‘ampas di dasar gelas’
Semua hampir sama bahkan sama, tergantung cara kita menikmatinya
Ampas Si kopi hitam manis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s