Sepenggal Kisah Tentang Sahabat Terbaik

Saat saya menangis, saat saya tertawa. Entah itu bahagia atau sedih. Dia itu selalu menemani.
Saat saya berjalan sendirian dibawah terik matahari, tanpa sengaja saya terjatuh. Saya tidak menangis karena dia. Tapi, saya juga tidak tertawa karena lucu.
Saat seorang diri dan berpikir tentang betapa bodohnya saya dulu. Saya terkadang hanya tersenyum, berkaca-kaca… bahkan air mata menetes tanpa perlu komando saat mengingat terjalnya jurang yang telah dilewati. Dia setia disamping saya menemani akal sehat saya menerawang jauh entah ke antah berantah bagian mana.
Dia adalah guru terbaik selain pengalaman yang telah saya dapatkan.
Saya ingat pernah mengayuh sepeda dan saya lupa, saya tidak bisa menguasai sepeda itu. Saya jatuh. Tapi saya hanya tersenyum. Dia yang mengingatkan saya.
Sungguh baik sahabat saya ini.
Dia yang buat saya tersenyum bahkan tertawa hingga terbahak -bahak, tapi dia juga yang seringkali membuat saya berkaca, menangis bahkan hingga tersedu-sedu. Tak ayal dia yang membuat saya menyayat selapis kulit tipis di tubuh saya… (*maaf lebay :D)
Hmmm…. dia adalah sahabat yang luar biasa.
Pernah suatu malam… entah karena cerita dalam novel yang saya baca atau karena pembawaan saya yang melankolis.
Entah jalan ceritanya, seperti seluruh emosi tersedot ke dalam nya…
Sial… air mata itu jatuh tanpa permisi.. hangat rasanya di pipi
Beruntung, sahabat yang memang tak bisa saya pungkiri pengiring air mata
Dia juga yang menguatkan dan menyadarkan batin saya yang setengah tertidur… Lucu tapi seperti hati ini mengernyit membuat merinding
Sepertinya saya setengah sadar sampai hampir terlelap ke alam bawah sadar, hmmm dia juga sahabat yang mengiringi tidur saya.. Dia setia mengingatkan, inilah saat untuk terlelap.. meski basah di pipi, senyum simpul tersamar,
Katanya, “Sudahlah ini sementara kamu hanya sekedar muncul sekilas, tidurlah, esok mentari tetap bersinar dan langit tetap cerah… ”
Terima kasih sahabat….
Terima kasih telah hadir di masa hidup saya…
Keinginan terbesarku, memperkenalkamu pada orang disekitar saya
Tapi itu sulit dan terlalu pemimpi, hanya saya yang nampak untukmu… begitu sebaliknya
Rasanya ingin suatu hari saya berkata,
“Kenalkan, ini sahabat saya…
Namanya…
Luka”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s