Self Injury / Self Harm

SHSH-Logo-blank

Bagi kebanyakan orang, tindakan melukai diri sendiri, seperti melukai tangan dengan silet lalu melihat darah yang mengalir merupakan hal yang mengerikan. Akan tetapi sebagian orang justru menikmati tindakan tersebut dan menggunakannya sebagai media pelepasan emosi. Tindakan melukai diri sendiri dikenal dengan self injury.

Definisi Self Injury

Self injury atau self harm merupakan kelainan psikologis di mana seseorang dengan sengaja melukai diri sendiri. Aktivitas self injury dapat berupa mengiris, menggores, melukai, membakar kulit, dan mememarkan tubuh. Pada tingkat yang lebih akut, penderita dapat mematahkan tulang mereka sendiri dan menyuntikkan racun ke dalam tubuh.

Dengan kata lain, self injury merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri yang digunakan seseorang untuk mengatasi rasa sakit secara emosional, kekosongan diri, kesepian. Dengan melukai diri sendiri, maka seseorang merasa rasa sakitnya berkurang, meskipun ia sadar bahwa itu hanya untuk sementara. Karena pelaku “menikmati” tindakan tersebut, maka self injury dilakukan secara berulang dan menyebabkan kecanduan.

Self Injury Berbeda Dengan Bunuh Diri

Berbeda dengan tindakan bunuh diri, self injury dilakukan untuk melepaskan emosi yang tidak dapat diungkapkan. Melukai diri dilakukan untuk mengurangi ketegangan, euforia, kemarahan, depresi, kesepian, kehilangan, dan memuaskan keinginan untuk menghukum diri sendiri. Penderita merasa tenang dan “nyaman” setelah menyakiti diri.

Penyebab Self Injury

Berikut beberapa pemicu tindakan self injury :

  1. Merasa putus asa dan tidak tahu ke mana harus mencari bantuan. Karena merasa tidak berdaya, dengan menyakiti diri sendiri seseorang merasa lebih terkontrol.
  2. Perasaan marah yang tidak tertahankan. Perasaan tersebut membuat seseorang berpikir dengan melukai diri dapat mengurangi ketegangan yang dirasakan.
  3. Perasaan bersalah atau malu yang tidak tertahankan. Menyakiti diri sendiri menjadi cara untuk menghukum diri sendiri.
  4. Merasa terpisah antara dunia dan tubuhnya. Menyakiti diri sendiri bisa menjadi cara untuk mengatasi pengalaman menyedihkan seperti trauma atau pelecehan serta menghindari rasa sakit ketika mengingat pengalaman tersebut.

Self Injury Dianggap Sebagai Aksi Cari Perhatian

Saat penderita sedang merasa “down”, kecewa, atau kurang percaya diri, ia akan melukai dirinya. Meskipun ia sadar tindakan pelarian tersebut hanya bersifat sementara dan tidak dapat mengatasi masalah. Bila tidak diatasi sesegera mungkin, maka akan terjadi peningkatan frekuensi dan tingkat kerusakan fisik yang ditimbulkan akibat tindakan tersebut.

Masyarakat umum menganggap tindakan self injury merupakan tindakan cari perhatian. Padahal dalam kenyataanya, pelaku justru menutupi keadaan mereka. Menggunakan baju lengan panjang untuk menutup luka di tangan misalnya. Selain itu mereka akan menghindar jika orang di sekitarnya mulai curiga pada luka-luka yang ditimbulkan akibat tindakan self injury.

Beberapa Tipe Self Injury

  1. Major Self Mutilation

Merupakan tindakan melukai diri yang menyebabkan kerusakan pada organ tubuh, di mana kerusakan tersebut tidak dapat diperbaiki seperti semula.

  1. Streotypic Self Injury

Tipe ini bersifat berulang. Contoh tindakan yang dilakukan antara lain mengiris tangan, membenturkan kepala, membuat lebam. Penderita tipe ini memiliki kelainan syaraf seperti autism atau tourette syndrome.

  1. Superficial Self Mutilation

Tipe ini adalah tipe yang paling banyak dilakukan. Superficial Self Mutilation terbagi lagi menjadi 3 subtipe, antara lain kompulsif, repetitif, dan episodik. Pada tipe kompulsif, biasanya dilakukan bukan untuk mencapai pelepasan tapi lebih sebagai kompulsi. Sedangkan pada Repetitif, self-injury sudah dianggap sebagai bagian yang krusial dalam kepribadian pelaku. Dan Episodik lebih kepada episode dimana self-injury bermanifestasi pada waktu-waktu tertentu.

Untuk menolong penderita self injury, adalah dengan menjadi tempat berkeluh kesah, mendengarkan cerita mereka dan membantu masalah yang mereka hadapi. Untuk mengatasi kebiasaan melukai diri, dibutuhkan bantuan terapis atau professional.

Sumber :

Kompas, MayoClinic, Wikihow, http://psikologid.com/self-injury-sebagai-pelampiasan-emosi/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s