Entah

Kalau diibaratkan seperti selembar kertas kosong, putih rapi bersih… mulai banyak coretan sana sini, bekas salah tulis sana sini. Diremas lalu dilempar ke tempat sampah, kemudian ambil lembaran kertas yang baru…
Begitu terus dan terus..
Entah ini sebuah penjelasan yang sudah lama saya tunggu atau kesimpulan-kesimpulan pribadi yang tanpa sadar saya bentuk.

Sebenarnya penantian sebuah penjelasan itu masih terus bergulir. Tapi karena rasanya mustahil mendapat jawaban dari sumbernya. Hanya bisa menunggu jawaban dari waktu dan setiap kejadian yang tanpa sengaja saya alami.
Entah benar atau tidak cara saya membuat korelasi antara apa yang saya dengar atau alami saat ini atau kemarin dengan kejadian yang masih saya pertanyakan kebenarannya. Alih – alih skeptis, tapi rasanya petugas polisi pun selalu mencari dan memerlukan bukti otentik untuk sebuah kejadian yang sudah pasti.

Entah kenapa, sepertinya saya perlu ruang untuk duduk diam sendiri jauh dari hingar bingar keributan dalam kesibukan saya. Apa harus sampai menjadi orang yang anti sosial supaya saya menjadi yakin dulu dengan apa yang ada di dalam otak saya.
Sungguh mengganggu karena setiap hal rasanya memiliki benang merah dengan alam pemikiran saya. Seperti berusaha menyatukan puzzle yang berceceran entah dimana dan kemana.

Setiap hal yang rasanya berhubungan dan membuat otak saya bergumam “oh… mungkin ini” atau “mungkin, sebenarnya seperti ini” dan terkadang “oh, gini kali ya…, itu kali ya…” lambat laun menguras energi saya.
Kepada siapa saya harus berargumen. Menceritakan yang sebenar-benarnya…
Ah… memang sejak awal mungkin seperti itu, sama seperti yang saya duga… saya hanya naif. Terlalu banyak rasa yang ingin dibagi..

Insan yang berperan hanya sebagai penerima yang terjebak oleh sifat kekanak -kanakan saya.. dan akhirnya tidak sanggup lalu jera hingga memilih untuk menyelamatkan diri. Ataukah, insan yang memainkan perannya untuk memberi dan memberi hanya untuk mengimbangi peran saya selama ini…
Semoga anggapan saya benar adanya… seandainya tidak,, saya tidak tahu harus berapa lama lagi membentuk dan menyusun puzzle yang terberai menjadi penggalan – penggalan dalam setiap langkah saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s