Hujan

Hujan….
Saya sangat suka hujan…. suara rintikannya, angin dingin yang mendampinginya.. 
Juga udara menusuk yang punya keistimewaannya sendiri…
Auranya yang mampu membawa angan menjelajah dari masa lalu hingga hari esok tanpa ujung dan tanpa batasan..
Selintas teringat kepingan lukisan itu… berusaha menerka
Semoga itu benar pancaran kebahagiaan tanpa kepura-puraan… harusnya saya pun bahagia…
Bahagia.. tapi mengapa mata ini terasa basah… entah lah.. mungkin ini lah masa dimana logika dan perasaan tak berjalan beriringan
Ironis memang… saat mereka tau, senyuman itu dilukis diatas genangan air mata yang terkumpul bermalam-malam. Yang entah datang dan terurai pada saat apa dan bagaimana…
Air mengalir kemana pun dia suka… dia membuat segala sesuatu terhapus. Terseret arus alirannya… hingga tak ada yang mampu abadi…
Mungkinkah… senyuman yang terlukis itu akan sirna begitu saja? Saya hanya bisa menerka… karena senyum itu dilukis di atas kanvas air mata insan lainnya… tanpa perlu alasan dengan sadar atau tanpa sadar….
Pedihnya hatimu kawan… nikmati saja… hingga sepedih-pedihnya… hingga kamu lupa seperti apa pedih itu… dan ketika datang sedikit bahagia, kamu terpana dengan perasaan luar biasa dan tak tertahan bahwa sedikit itu menjadi sungguh luar biasa karena pedih yang telah kamu terima..  saya tau betapa inginnya kamu membalas dendam itu…
Iya… saya sungguh sangat ingin itu… tapi selepas itu alam berbisik …. menyampaikan pesan dari Sang Pencipta… “Itu Bagian Ku”
Saya tahu…. karma telah menunggu di pintu gerbang mu… maaf
Saya hanya bisa berdiri dari kejauhan… tak bisa mengendalikan nya… mengatur geraknya entah ke arah mana… entah pada mu atau pada insan kesayangan atau insan kolegamu…
Saya tak bisa melepas begitu saja… karena takut semakin merah api karma membara….
Karena ikhlas ini adalah karma bagimu…
Tapi sungguh…. saya hanya ingin hidup dengan baik saja… tanpa mengganggu pilihan hidup bahagia mu…
Semoga bukan semu…
Ketika hujan…
Perlahan berderap menghilang…
Dingin nya…. begitu dirindu…
Hujan….

Jakarta #jakarta

“Jakarta ramai… hatiku sepi….”

Tiba-tiba ada lirik itu dari radio… hmmm…
Jujur nya sih, saya ga terlalu tau soal lagu atau penyanyi lagu itu.. yang saya tau ya emang bener sih..
Jakarta ramai… a.k.a macet padat.. hahaa… yang harusnya 10 atau 15 menit waktu tempuh bisa jadi berjam-jam… Jakarta gitu loh…
Apa sebenernya sebabnya… harus ke satu tujuan ajah muter kesana kemari… banyak banget pasak bumi atau apa yah itu tiang belum jadi yang bakal dijadiin jembatan atau jalan layang… melayang di udara dengan penyangga… helahhh apa sih..
Terus apa hubungam ocehan di atas dengan lirik lagu yang saya tulis di awal? Ya itu… seperti kontra dalam satu situasi… begitulah kira-kira…
Ohhh… ternyata disini lagi pembangunan MRT… bukan jalan yang melayang hahaha barusann supir saya yang bilang…
Semakin dekat rasanya kita karena sesak rasanya padahal hanya satu kota saja…
Luar biasa…
Mari bersyukur sebelum mengeluh

Tulisan ini dibuat karena saya lelah di ibukota … lelah muter-muter tepatnya (masih di mobil) #curcoldikit

Sebelum saya mengeluh di kemudian hari…. saya hanya akan menundanya dengan bersyukur terlebih dahulu.
Supaya keluhan akan terus menjadi sebuah penundaan. Hal yang tertunda terus menerus, sehingga saya lupa bagaimana caranya untuk mengeluh dan hanya tau cara bersyukur…
Sama halnya lupa bagaimana rasanya disakiti dan hanya tau caranya mencintai dengan tulus…
Ini adalah kepercayaan juga sebuah ujian… semoga Tuhan menguatkan…
Saya tau bagaimana rasanya sebuah kekecewaan dan kepercayaan yang terkhianati…
Orang lain tak perlu tau…
Semua cukup bagi saya…
Tugas saya… hanyalah menyelesaikan pertandingam hingga garis finish dan berkata…
Saya telah mengakhiri pertandingan ini dengan baik…

Lantai 21…

Ketika yang dulu adalah kita berada di suatu titik yang sama…
Satu langit yang sama. Keramaian yang sama..
Udara bahkan keramaian yang sama…
Metropolitan…
Dari lantai 21 sudut gedung pencakar langit ini
Memandang jauh berusaha menembus cakrawala…
Terhipnotis lamunan suatu masa…
Kita saling menatap dari kejauhan pun tidak lah mungkin…
Karena takdir mengijinkan ku berada pada titik itu..
Hanya untuk kembali dan bukan untuk bertemu..
Mungkin belum….