Kamu terlalu sibuk membahagiakan orang lain sampai kamu lupa bagaimana cara membahagiakan diri sendiri dan akhirnya kamu tak peduli bahwa tak ada seorang pun yang benar-benar membahagiakan kamu

Disana entah belahan dunia mana…

Saya bersyukur… Tuhan yang sibuk menyiapkan kebahagiaan untuk saya…
Saya hanya harus bersabar dengan cacian mulut yang mereka saja lupa membasuhnya…

Saya tak bersyukur… iya.. ah tidak
Saya hanya ingin selalu yang terbaik… jika di mata suci mereka saya tak tau cara bersyukur… tak apa

Suatu hari… mereka akan merasakan juga…

Cukup Tuhan yang tau…
Apakah saya telah cukup mensyukuri apa yang ada dan melekat dekat dengan saya…

Jangan, cukup… kalian tak perlu menghakimi hanya hanya karena terlalu banyak saya mengharap… menuntut.. meledak-ledak tak karuan…

Kalian tak sungguh kenal saya rupanya…
Kalian hanya mencintai pembungkus hadiah yang dihias pita dan bunga….

Kalian lupa pada isinya…

Kalian tak cukup kuat dan tangguh untuk melihat makhluk bedebah penuntut Tuhan tak kenal rasa syukur…

Seandainya kalian tau…

Sejahtera ini saya dapat… ketika saya berargumen dengan Tuhan saya… di dalam kamar gelap sepi sendiri…

Hei… makhluk mana yang bisa melakukan itu?

Bukankah kalian memanggil saja enggan?

Saya bisa berdebat dengan Tuhan saya tentang banyak hal

Itu lah damai sejahtera dan kebahagiaan yang sesungguhnya… dan tak ada seorang pun berhak melepas jari telunjuknya untuk menghakimi saya!

Karena tak semua orang mengerti dan alami itu!

Camkan itu!