Seperti kopi hitam pekat,
Pahit dan manis melebur jadi satu di lidah…
Meskipun tak bisa setiap saat menikmatinya
Dan memutuskan berhenti untuk mencicipinya
Rasa dan aromanya masih kuat terasa…
Mungkin seperti itulah cinta

Advertisements

Segelas Kopi di Siang Bolong (Bag. III)

Ahh… kopi saya kali ini terasa berbeda dari yang biasanya.. Mengapa? Membuat angan saya menerawang begitu jauh. Entah dia sampai ke tepian atau tidak. Apa sebenarnya yang membuatnya terasa begitu berbeda. Hmmm…. Sudah hampir habis, tapi saya masih kebingungan kenapa rasa kopi ini berubah… Tidak sedikit, perbedaan nya sangat terasa di lidah. Tidak banyak, karena masih samar kadang hilang. Oh… benar. Rasanya lebih pahit dari biasanya. Entah takaran seperti apa. Sedikit lebih pahit atau jauh lebih pahit dari kopi saya yang lalu. Rasa kopi ini lebih betah berlama-lama menempel di ujung lidah, tidak-tidak… di seluruh lidah tepatnya. Aahh, sepertinya ini sebabnya, ini masih terlalu pagi untuk segelas kopi… pasti karena terjaga cukup lama tadi malam. Saya lupa ini kopi untuk di siang nanti… Sudah lah tak mengapa.. sudah hampir habis masa untuk kopi hitam ini kembali ke dalam gelas nya. Belum ada sedikit makanan masuk ke perut kosong ini dan yang dikecap lidah ini. Pantas saja, rasanya sungguh kentara. Pahit… semakin lama terasa sangat pahit. Agaknya siklus hidup saya beberapa bulan terakhir agak kacau… Ini juga mungkin yang terasa di lidah ketika kopi hitam ini diminum terlalu pagi. Banyak ampas dan kopinya sendiri sudah hampir sama.. perlu kehati-hatian supaya ampasnya tidak ikut terminum. Supaya dapat terasa bahwa kopi hitam yang terlalu dini ini masih memiliki kenikmatan tersendiri. Ahhh… jadi apa korelasinya dengan hidup kita … Ada? Entahlah… Setiap apa yang kita lakukan selalu punya filosofinya sendiri.. Seperti tentang rahasia yang semua orang pasti miliki. Nama, peristiwa, kenangan yang tersimpan jauh disudut hati. Tak ada seorang pun yang tahu, mirip seperti kopi hitam yang terlalu cepat saya teguk kenikmatannya… Tak ada yang tahu rasa yang sebenarnya seperti apa… Karena katanya, beda lidah beda sensasi rasa si kopi hitam ini. Meskipun pahit tapi selalu kita habiskan hingga tinggal ampasnya lalu dibuang. Sama seperti hal-hal yang entah begitu betah berlama – lama dalam ingatan dan dalam nurani. Mungkin memberi rasa pahit, tapi kita menikmatinya hingga tegukan terakhir. Kita bisa berhenti , memutuskan berhenti untuk membuat kopi hitam. Menolak keinginan untuk meminum segelas kopi hitam, atau sekedar mencicipinya. Iyaa… kita bisa melakukannya sesekali. Tapi, tak bisa selamanya. Kopi hitam bagaikan nikotin dalam sebatang rokok. Itu yang saya rasakan. Sekian lama berhenti, saat memulai kembali. Kita seperti terhipnotis lebih dalam karena sensasi rasa si kopi hitam.  Ahh… entah apa yang saya urai ini. Mungkin ini karena insomnia saya yang tiba-tiba datang tadi malam dan malam-malam sebelumnya. Entah juga karena segelas kopi hitam yang terlalu pagi untuk dinikmati. Begitulah hidup. Pahitnya seperti segelas kopi hitam. Tetap kita nikmati meski pahit, hingga nanti tersisa ampas, dan mau tidak mau kita buang… atau kita simpan dan kumpulkan namun tetap tak bisa kita jadikan segelas kopi hitam yang penuh kenikmatan lagi. Jika bisa rasanya tak akan lagi sama. Ahhhh…. ini benar-benar kopi hitam yang seperti obat psikotropika… membuat saya menulis melantur yang entah inti dan tujuan nya apa… memberi inspirasi di tengah rasa ketagihan yang menyiksa. Apalah ya apalahh ituu… hahaa… ternyata bukan rasa kopi ini yang berubah. Hanya tubuh saya yang terserang insomnia menerima si kopi hitam dengan cara berbeda… tapi saya tetap menyukai dan menikmatinya.. ahh, buang saja rasa yang kurang bersahabat dengan lidah, toh itu hanya sementara.. masih ada kenikmatan meskipun sedikit yang diberikan kopi hitam yang terlalu dini ini.. Kopi hitam akan tetap menjadi kopi hitam, akan tetap hitam (selama tidak ditambah susu) hehe… Sepertinya saya terlalu menikmatinya, tidak saya sadari saya meminum sedikit ampasnya , entah banyak… saya tidak tahu. Rasanya sekarang ampasnya menempel di lidah, mengendap ke dalam rongga perut, mengerak dan akan tinggal di dalam tubuh saya untuk waktu yang cukup lama… Tak apa, saya menyukainya… aromanya telah merasuk ke aliran darah. Bersemayam dalam angan. Saya jatuh cinta pada si kopi hitam, Sssttt … biarkan serpihan hati ini saja yang tahu kalau saya telah memutuskan untuk jatuh cinta setiap saat pada si kopi hitam… meskipun pahit. Segelas kopi hitam, berjuta makna…

Segelas Kopi di Siang Bolong (Bag. II)

Penikmat kopi tau kan kalau kopi hitam selalu meninggalkan jejak? Iya.. ampas kopi. Mengapa orang berlama-lama meminum kopi yang bahkan hanya secangkir mini? Mengapa tak langsung habiskan saja semuanya? Berjam-jam hanya untuk menghabiskan segelas kopi, rasanya membuang waktu. Tapi tidak kalau kita tau cara menikmati kopi hitam itu.
Saya ini penggila susu, hehe.. tak bisa rasanya berlama-lama kalau untuk susu. Hitungan detik, langsung habis ludes tak bersisa. Saya sendiri agak bingung, kenapa tidak sama perlakuannya untuk si hitam manis ini…
Hmmm…. entah naluri atau aromanya yang menghipnotis, tapi… saya jadi berlama-lama hingga si kopi hitam habis. Mungkin minuman ini perlu masuk dalam daftar minuman favorite saya selain susu dan turunan nya.. 😛
PAHIT itu rasa yang pertama muncul, lupa kalau kopi itu sudah ada gula juga di dalamnya, seteguk pertama, kedua,,, ketiga,,, lidah masih merasa pahit yang kuat. Mungkin karena itu prang perlu waktu lama saat menikmati kopi. Jadi teman yang pas untuk bersantai atau mencari inspirasi. Diperlukan jeda antar tegukan pertama dan kedua, begitu seterusnya. Mungkin membiarkan rasa pahitnya agak samar-samar. Jadi tegukan berikutnya, masih ternikmati sensasi pahit manis si kopi hitam.
Anehnya, saat hampir habis kopi hitam, kenapa rasa manis menjadi lebih kuat dari pahit. Mulai terasa giung kata orang Jerman van Java… hehee… tapi, ada yang tertinggal disana, didasar gelas. Seperti pasir laut yang tersapu ombak.
Pasti tertinggal mengiring di tepian pantai
Hahaa…. lebay yahhh…. tapi iyah, hampir seperti itu,
Ampas kopi hitam
Rupanya, berlama-lama bukan hanya untuk membiasakan lidah dengan pahitnya, tapi ampasnya ikut mengendap…
Tertinggal di dasar gelas. Rupanya rasanya kurang ramah di lidah. Kasar dan apa yah… ya begitulah.. coba saja sendiri.. 😀 ada yang suka, ada yang tidak, ada yang membuangnya begitu saja, ada yang meminumnya hingga tak bersisa…
Jadi terlintas berbagai macam hal karena si ampas
Manusia hampir mirip seperti kopi hitam
Proses kehidupan yang dijalani, pahit manis… ternikmati
Tapi semua tingkah laku pola lisan meninggalkan ‘ampas di dasar gelas’
Semua hampir sama bahkan sama, tergantung cara kita menikmatinya
Ampas Si kopi hitam manis

Segelas Kopi di Siang Bolong (Bag. I)

Kalo dihitung-hitung, mungkin sekitar 25 tahun lebih saya tidak icip-icip kopi hitam…
Masa iyah ya… koq lama amat yah!? Apa bisa!?
Padahal beribu orang ngefans berat sama si hitam manis yang katanya bikin melek. Saya sih minum paling kopi ditambah susu, tidak pernah sama sekali minum kopi hitam murni yang murni hitam… hahaa
Apa yah itu namanya kopi espresso atau kopi tubruk atau apalah itu… pernah baca juga sih novel “Filosofi Kopi” yang ga tau kenapa bacanya ga beres2 padahal bukunya ga  setebel novel “Harry Potter”
Emang dasarnya kalo baca suka yang bagian menariknya aja, jd cuma tau potongan2 nya saja. Hehee…
Kopi itu banyak jenisnya, dan punya filosofi sendiri2. Menikmatinya juga bisa dengan berbagai macam cara.
Hari ini entah kenapa, berasa aneh dan super aneh waktu ditawari kopi hitam karena serangan ngantuk tak tertahankan… (*ini penyakit menahun di siang hari saat bekerja)
Secara kan yah, orang lain minum setiap hari, nah saya kan ini perdana sodara2..heu
Sejak terahir kali minum itu puluhan taun yang lalu. Inget banget kenapa saya ga mau minum kopi lagi, dan alhasil bertahan sampai barusan sebelum saya minum kopi pertama saya setelah puluhan tahun..
Dulu itu saya masih polos2 nya, masih taman kanak2 rasanya. Saya suka kopi hitam kala itu. Sampai suatu ketika, ada yang bilang, kalau minum kopi hitam nanti saya jadi kurang pintar alias bodoh. Mungkin sejak saat itu yah, saya entah kenapa memprogram mindset saya supaya berhenti menggemari kopi hitam biar pinter. Hahaa… (*pelajaran ya, hati2 menasehati anak kecil, daya ingat mereka kuat dan terus terbawa sampai dewasa)
Lucu memang, tapi ya itu, berdampak sekali pada saya, tapi apa betul yah, kopi hitam itu bikin bodoh? Hahaa… whatever lah ya… mungkin perlu penelitian lebih lanjut.
Yang jelas, kopi hitam ini rasanya masih sama seperti dulu.. manis sedikit pahit atau mungkin pahit sedikit manis. Itu yah sensasi yang belum tentu didapat dari minuman lain yang punya warna mungkin sama. Oh, saya pernah sok gaya minum espresso, double espresso lagi, ahhh…. seperti hidup, pahit ga ketulungan… haha (* pantes dikasihnya di gelas kecil, banget lagi)
Terus ditambah gula , pahitnya makin kuat, manisnya kalah sama rasa dan aroma espresso itu… sepertinya sudah 10 sendok gula yang dimasukan.
Berarti , ini bukan kopi pertama saya, tapi saya lupa kapan saya minum espresso untuk pertama kali… tapi saya tetep aja bisa tidur nyenyak yang katanya bisa bikin melek semalaman.
Kalau orang merokok katanya dia bisa dapat inspirasi… sepertinya seteguk kopi hitam juga bisa memberi inspirasi…
Pantas saja merokok itu selalu ditemani kopi hitam… hmmm
Tiba2 tertarik dengan si hitam manis….
Sepertinya, banyak cerita hidup lewat kopi hitam ini…
Omong2 soal kopi hitam saya di siang bolong ini, manis…. dan sedikit meninggalkan rasa pahit.. penuh makna..

image