“If you tell the truth, you don’t have to remember anything.”
Mark Twain

Banyak hal terlintas dalam benak saya yang terkadang kosong melongpong, kadang overload dengan pemikiran – pemikiran yang tidak terlalu penting jika direnungkan di kemudian hari. Malah terkadang saya tidak terlalu banyak berpikir, ya… lakukan saja, ya… katakan saja. Terlalu kekanak-kanakan. Kejujuran? Semakin ditelusuri, semakin tersamar kesan jujur atau mungkin polos. Lebih kepada kepribadian yang terlampau lambat untuk memiliki sisi kedewasaan. Terlalu ceplas ceplos pada sebagian orang membawa petaka yang berlarut. Disana berbisik kalau saya harus jadi diri sendiri. Di sudut lain bilang saya harus bisa menempatkan dan mengontrol diri. Jadi apa dibenarkan sebuah istilah “kebohongan putih” yang katanya untuk membuat keadaan tetap baik. Apa disahkan di negara ini? Bukan kah bohong ya tetap saja bohong. Kejujuran itu memiliki harga mati dan harga yang sangat mahal. Pernah berkata jujur tetapi malah kehilangan sahabat? karyawan terbaik? atau mungkin kekasih? Seringkali begitu. Orang lebih mudah menerima sebuah kebohongan. Entah itu hitam atau putih. Mereka lebih nyaman hidup dalam kebohongan. Begitu menderita ketika harus mendengar atau menerima sebuah kejujuran. Padahal di kitab atau di buku manapun selalu terungkap. “Jika ya, katakan ya dan jika tidak, katakan tidak.” Itu berarti tidak ada istilah bohong putih. Kita yang menciptakan itu. Untuk menghapus perasaan bersalah mungkin. Membenarkan kesalahan yang kita lakukan sendiri. Atau supaya segala hal tidak baik yang kita lakukan menjadi suatu kewajaran. Semua orang dilahirkan dengan keahlian untuk berbohong. Saat kita kecil, itu naluriah terjadi. Beranjak dewasa seharusnya kita semakin bisa menguasai diri untuk tidak berbohong, tapi tidak demikian. Kita jadi semakin terbiasa untuk berbohong untuk menyelamatkan diri. Cari aman sendiri. Yang penting dengan begitu bisa hidup damai, meskipun itu fana. Pernah mendengar atau mengetahui tentang orang yang benci ketika dia harus berkata jujur? Pasti pernah, mungkin kita sendiri , juga saya pernah dilintasi pemikiran seperti itu. Mengapa jujur menjadi hal yang sepertinya sulit untuk dilakukan dan diterima. Mungkin itu disebabkan karena kita telah terbiasa dan dibiasakan dan membiasakan diri kita sendiri dalam “kebohongan putih.” Saya tidak terbiasa menikmati sebuah kebohongan atau apalah itu yang katanya “kebohongan putih.” Saya lebih bisa menerima sebuah kejujuran yang katanya itu seringkali sulit diterima. Memang sulit, sampai sekarang saya masih terus belajar supaya dapat menerima sebuah kejujuran dengan mudah daripada menikmati kebohongan. Saya membiasakan diri saya untuk berkata sejujurnya. Yahh… meskipun saya tahu kalau konsekuensinya mungkin akan membuat saya kehilangan segalanya. Setidaknya, apa yang saya rasakan setelahnya jauh lebih mendamaikan. Rasanya terlepas dari beban. KIta seringkali berpura untuk menjaga lisan atau perilaku kita. Tanpa kita sadari kita sangat sering melakukan kebohongan. Hmmm…. Aneh memang, tapi seringkali kita melakukan itu untuk menjaga perasaan orang lain, menjaga hubungan kita dengan orang lain… yaaa… secara kita kan katanya makhluk sosial. Sering sekali kita menjadi dijauhi atau dikucilkan karena kita katanya “terlalu” jujur. Ah.. yang benar saja, masa kejujuran itu harus dibatasi. Mungkin bukan dibatasi, tapi kita harus belajar menyampaikan sebuah kejujuran dengan cara yang dapat lebih diterima oleh orang lain. Sehingga tidak ada lagi yang namanya “kebohongan putih” atau apalah nama lainnya. Ya, itulah sebabnya, terkadang saya lebih suka diam daripada bicara. Karena kalau saya bicara ada saja orang yang tidak menerima dan katanya saya ini “menghina” lah.. “mengejek”lah…”mengkritik”lah… jadi intinya sih mereka tidak terima. Waktu itu saya pernah bilang pada seseorang teman kalau dia itu bau badannya kurang enak, ya karena saya tidak berpikir mengejek atau menghina saya bilang saja terang-terangan “Ih, kamu bau asem”, hahaa…. dia tersinggung sepertinya. Ya, karena saya lumayan sering mengomentari penampilan dia. Singkat cerita, ya mungkin dia berpikir saya ini tidak menerima dia apa adanya sebagai seorang teman. Nah, inilah dimana saya jujur tapi malah ditinggalkan teman saya. Bukannya lebih baik saya jujur, jadi dia bisa memperbaiki. Menurut saya sih, jujur saya itu ya karena saya perhatian saja. Tapi ya diterimanya kan beda, itu dia. Orang lebih suka dibohongi dipuji dipuja meskipun itu palsu. Nah, sekarang bagaimana dengan saya yang mendengar kejujuran dari orang lain? hhaahaa… Saya sih seringnya diam, bagaimana reaksi orang yang jujur itu? Sudah dapat ditebak. Dia berpikir kalau saya ini marah dan tidak terima dengan apa yang dia katakan. Ah, memang dia itu dukun ya, bisa baca pikiran orang. Saya lebih baik diam dan memikirkan apa yang dia katakan. Direnungi, kira-kira bagaimana baiknya supaya saya bisa berbenah diri. Ahh… kadang memang suka banyak dukun dadakan, paranormal pembaca pikiran. Orang tua saya saja belum tentu mengenali saya dengan baik, koq ini ketemu kemarin sore, bersikap seolah tahu bagaiman saya. Hahahaa…. hebat. Ya itulah… intinya sih… kita dikelilingi oleh kebohongan – kebohongan putih (*katanya). Terserah kita mau menyesuaikan diri atau tetap jujur pada diri sendiri. Karena apapun bentuknya, kejujuran itu faktanya lebih sulit diterima nalar. Apalagi kejujuran yang sebelumnya diawali kebohongan. Pasti akan melukai dan menyayat hati. Sekian. 😛

c7dc15f20fdb1512aee4849e2facf639

Advertisements