Yes I Am or Was??

Image result for self injury

Google Image

Hi.. Hello..!!!
It’s wonderful sky for tonight, ya.. I guess
Nice to know about all of you..
And this is the best experience to write some thing here… about me
about my past… my experience … about bla.. bla.. bla…
First thing, Let me introduce myself ..
With pleasure…. here I am and I was…

I’m not a little girl anymore.. I think I’m woman for now or anything else except baby or a man because my gender is female.. LOL
I’m 29th years old
I’m from Indonesia.. and a lot of people didn’t know about my country but nope
I’m single happy because I’m not married, hmmm… not yet 😀
and God have Someone to be my future husband..
It’s all about me and my past experience..
The story begun… when I know what is Sex, Love and Dating…
I live far away from my parents, from my family.. well maybe I’m alone and I met a guy to filled my loneliness… and you know how the story is… I lost my virginity
I was made such a fool stuff…
I still remember what I did in my small room…
I was hurt and frustrated.. I felt messy, dirty, impure..
Yeaa… something like that..

I always take something to cut or scratch or hit my body.. the most like is my hands
I can felt the name of peace and relax…
I can hit a wall , cut my hair myself
I always did something like that when I’m angry or sad..
I like red and I like blood… when scratch my hand, I just need a few minute to be calm
That was amazing.. but now, that make me thinking out loud and say “WHY ?”
Maybe anyone can say that I was crazy.. haha
maybe but someday I know something about this
Self Injury Disorder, Self Harm , Self Abuse or anything else…
Yes oh no… OMG I had a mental illness…

If someone make me angry, sad, frustrated… till know I always want to doing something like that again.. again… and again…

I try to stop it.
My parents, my family … they don’t know anything about this
But when someone or guy like me and I like him, I always tell him all about my past and my habit…
but anyone can not help me… just me
When some article said , someone who loves you and always support you, you can healed.. hmmm.. I don’t think so..
I guess there is no man who can stand with my illness…
Because it is just make they hurt to when they know about my habit when despondent,enraged or frustrated or very hurt…

But know I against my illness alone… haha
I tried to fight with myself..
Everyone … all of you.. you have to do this too..
Stand alone with your own shoes..
Struggle…
Yes I Was…
Yes I Am…
Yes I Have A Self Injury Disorder Disease…
And know everyone who read my blog know about my disease…
I hope this is good for a lot of people…

With Love…
Keep Struggle!!!

Advertisements

Sang Kaya Penguasa

Gelimang harta itu, apa benar bukan hasil menginjak hak orang lain?
Kilau emas dan permata bisakah kau sisihkan sedikit saja untuk si miskin tak berpengharapan?
Ah.. ini hanya sebuah kalimat pertanyaan yang hanya perlu satu jawaban saja.
Seperti biasa, bukankah sandiwara telah menjadi bagian yang paing kalian sukai.
Hanya perlu Ya atau Tidak.
Tolong jangan beri silat lidah filosofi atau pun status di belakang namamu.
Semua orang tahu, aku tahu.. siapa yang tidak tahu dengan gelimang harta yang selalu tampak kemilau menutupi busuknya tanah yang hampir tiap hari kau injak.

Senyum palsu pada kaum rendah
Kami hanya keledai dungu diujung sungging senyummu
Iyah,, ini salah satu bentuk kekesalan karena bentuk penghakiman sebelah pihak yang memang seringkali dilakukan semua orang
Bukan hanya si kaya tapi juga si miskin
Berhak kah kita mengungkapkan pendapat sepihak kita tentang orang lain yang hanya sepintas lalu
Karena nila setitik rusak susu sebelanga
Eaa…
Tak pernah bisa seserius ini ketika amarah sebenarnya sudah dipuncak mendidih di kepala
Harga diri yang terluka
Tak pernah mencaci sesantun ini karena dikatai orang yang merasa berhak berkata hanya karena mengisi periuk nasi di awal bulan purnama

Ini pertama kali juga menulis sampah setelah sekian lama
tak terlalu penting sebenarnya
Lalu apa kabar dengan si kaya penguasa yang merajai judul besar tulisan ini?
Kita sama-sama akan menjadi abu
Siapa pun itu status dan jabatan mu detik ini pun bisa sama- sama menjadi abu
Jadi jangan percaya pada si kaya penguasa, karena

“….. masing – masing kita adalah penguasa dari diri kita sendiri “

~sunbright~

Sekian…

Dimana Arie?

Iya, saya sedang mencari seseorang bernama Arie.. beberapa waktu yang lalu saya teringat seseorang kawan lama.. Namanya Arie..
Saya mengenalnya lewat telepon-telepon nyasar.. entah lah hahaa… saya aja ga nyangka mengalami hal seperti itu.

Satu hal yang saya ingat adalah saya mendapatkan hadiah ulang tahun sebuah CD.. saya lupa berapa lama tepat nya saya mengenal Arie, tapi satu hal..
Kesan yang saya dapat, yah dia yang paling normal dari beberapa orang yang saya kenal lewat perkenalan tanpa sengaja

Oh iya, soal CD itu, awalnya saya kira isinya hanya rekaman lagu-lagu saja, ternyata.. itu rekaman suaranya yang membacakan sebuah puisi yang dia buat (sepertinya sih begitu) hehehe….

Keren… hahaa
Dia dengan mudah membaca apa yang bisa membuat saya kagum hanya dalam waktu singkat..
Saya suka puisi, sesuatu yang berirama … apa yah.. ahahhaa maybe art.

Seperti Cinta yang baca puisi untuk Rangga.. weleh…

Dan sungguh, belakangan saya berusaha mengingat dimana saya menyimpan CD itu, sungguh saya menyimpannya baik-baik, tapi ingatan saya ini buruknya luar biasa..

Saya bukan jatuh cinta padanya, tapi saya jatuh cinta dengan karyanya (udah kaya artis kan yah)
Suaranya masih saya ingat dengan baik saat membaca puisi di rekaman itu…

Membuat saya teringat tentang sesuatu,di saat sekolah dulu saya selalu berusaha sebaik mungkin saat harus membacakan sebuah puisi.

Dan entah kenapa, tak sulit bagi saya mendapat nilai yang sangat baik untuk hal seperti itu.

Apa seharusnya saya menjadi Chairil Anwar atau Kahlil Gibran kali yah…

Sungguh saya berharap CD itu tiba-tiba ditemukan di sudut rumah… seperti Arie yang tiba-tiba muncul kemudian menghilang tanpa pesan…

Kawan lama… pasti menyenangkan membicarakan sesuatu yang mungkin lebay alay atau berlebihan menurut orang karena terlalu drama..

Bagi saya, itu suatu hal romantis… bukan hanya untuk sepasang kekasih,
tapi untuk seseorang yang berjiwa sepi namun berpura-pura tertawa di kerumunan…

Arie.. can you say hello again?

Let’s talk about everything we have and share every moment in our life.

Sepertinya dia sudah berkeluarga, tapi ga masalah, saya hanya ingin belajar bagaimana membuat orang jatuh cinta hanya dalam 3 detik pertama dia mendengar suara saya saat membaca puisi atau saat membaca tulisan saya…

Dimana Arie?

Jika saya beruntung… kemungkinannya sangat kecil dia membaca tulisan ini…
Semoga saya bisa menemukan hadiah lama dari kawan lama..

See you Arie 🙂

Meracau #1

Kalau sedang berpikir ahh bukan, lebih tepatnya asik sendiri dengan pemikiran ini rasanya terlalu banyak hal yang bisa ditulis.

kali ini entah harus mulai dari mana… banyak waktu yang dimiliki tapi rasanya saya ga melakukan apa – apa yang berarti…

saya lupa kapan saya muli menulis blog ini, blog yang ga ingin semua orang tahu disaat orang di luar sana mempromosikan blog mereka.. entah lewat status instagram, line , whatsapp, bbm… dan semua sosmed yang ada.

Saya malah ingin blog ini jadi rahasia, entah kenapa… disini ada sesuatu bagian dari diri saya yang berbeda dengan dunia nyata.

Sesuatu yang kadang bertolak belakang dengan saya di dunia nyata.. hmmm karena itu terkadang saya lebih nyaman menulis disini, menuangkan apa pun yang melintas di benak saya.

Saya sungguh tak menyangka sama sekali kalau akan ada orang yang membaca bahkan memfollow blog saya ini… Padahal isinya random bahkan amburadul hahaa… tapi saya tetap harus berterima kasih. Apa pun alasan mereka me-like tulisan atau memfollow blog saya, semoga saja itu berkesan baik.

Jadi,apa yang hendak saya tulis ya,,, yang jelas saya merasa kosong… banyak, terlalu banyak yang saya pikirkan beberapa hari ini.. entah itu apa, penting atau tidak, entahlah…

Apa mungkin selama ini saya berjalan dijalur yang salah?
Apa saya melakukan sesuatu bukan karena saya begitu menginginkannya, hanya untuk sekedarnya?
Apa saya terlalu berusaha membahagiakan orang, sampai lupa caranya memanjakan diri dengan hal yang setidaknya membuat saya tersenyum puas?
Puas pada diri sendiri, puas dengan hasil yang telah saya capai…

Oh iya, kalian mungkin tidak tahu, kalau saya hanya sekedar mengajukan seperti itu, akan ada setidaknya segelintir orang di luar sana yang berasumsi kalau saya ga bersyukur sama sekali, terlalu mikirin hal yang ga penting, dan terlalu sering mikirin hal negatif nya aja…

Seandainya aja kita bertukar pribadi.. please bukan Taat Pribadi ya.. hahaa
Ah… itu mustahil yah…
Betapa pun bersyukurnya kamu,, kalian… pasti semua orang punya mimpi.

Apa yang saya impikan? apa mimpi saya?

Entah…. saya bingung…

Apa seharusnya saya menjadi seorang penulis kisah roman yah… heummm…
Tapi gimana caranya, saya ga pandai menulis..
Tulisan saya kacau balau… ga keren malah lebih deket ke amburadul… heu

Kan katanya saya pecinta sejati yah… (kata orang)
Ya, siapa tau kalau bikin novel atau apa gitu yah, bisa laris terus jadi best seller.. eh, apa itu mimpi yah.. hahha

Ah sudah lah ya… Saya hanya lelah dengan rutinitas …. Pernah ga sih ngerasain yang namanya pengen berenti tapi ga sanggup kalo harus berenti..
Mungkin sama kaya pengen nangis tapi kaya ketahan di kerongkongan… haduh apaan sih yah…

Tau ga tentang pepatah ini :”Bahkan teman pun ga bisa kamu percaya selamanya, suatu saat mereka akan pergi meninggalkan kamu. Di dunia ini kamu cuma berjuang sendirian.”

Astagaa… maaf yah itu bukan pepatah deh ya kayanya #ngacomodeon

Passion… Did I have a passion?

Ketika melihat orang bercerita tentang keberhasilannya saat meraih impiannya, disitu saya berpikir…

Saya lupa apa mimpi saya… Orang lain punya mimpi, mimpi saya apa?

Bagaimana ini, apakah semuanya akan baik-baik saja kalau saya bersikap seolah tak peduli?
pilihan,,, hidup adalah pilihan…
Kebahagiaan mereka atau kebahagiaan diri sendiri… kalau mereka bahagia, rasanya itu cukup buat saya bahagia… tapi kalau saya bahagia, apa mereka juga bahagia atau malah iri dan membenci saya karena berpikir saya ini egois.

Apalah apalahh… hahahhaa…
Tulisan ini bener deh ga ada korelasi antar kalimat. Meracau kacau…

Jadi sebenernya apa itu mimpi?

Mimpi… mimpi… apa mimpi kalian?

Apa yang saya tulis ini.. huft..

Ah… sudahlah

Senandung Cerita

Apa kalian tau bagaimana rasanya menjadi seorang adik atau seorang kakak pada ssat yang bersamaan?
Bahagia lah meskipun sejenak, meskipun kini kalian sedang tak bertegur sapa. Karena kalian hanya harus memainkan peran kalian sendiri. Peran kalian yang seharusnya.
Wahai Adik… jangan membenci kakak mu ya, dia hanya ingin kamu tak hidup dalam kesalahan yang dia lakukan. Jangan bersedih jika kamu harus mengalah pada seisi rumahmu hanya kau begitu muda dan termuda dalam keluargamu…
Akan ada saatnya nanti seorang Adik akan menjadi seorang pemimpin dalam keluarga atau menjadi pengatur sebuah keluarga.
Terima saja semua sampai kau tak mampu merasakan dan berpikir apa pun lagi. Mati rasa. Mungkin rasanya semua sudah benar tapi tetap salah dimata yang lain.
Jika hatimu berkata dan bertanya “sampai kapan”
Ingatlah satu hal… suatu hari kamu akan pergi dari sini… menjauh untuk waktu yang sangat lama.
Lupakan saja amarahmu wahai Adik… kubur itu dalam-dalam hingga lenyap termakan waktu..
Kamu akan melupakannya segera, semuanya…
Entah apa hartamu wahai Adik… hingga langit pun mempertanyakan kebencian di mata saudaramu..
Hidupmu hancur karena memilih menjauhi rumahmu, agar tak ada rasa iri dihati saudaramu, kau celaka, tapi kau tanggung sendiri…
Mungkinkah seharusnya kau terlahir sebagai seorang Kakak…
Siapa yang harus disalahkan, tetap kau Adik.. karena kau terlalu muda dan naif untuk telalu jauh dari ibu.
Apakah harus sang Adik mati dihadapan saudaranya, agar tumpah ruah semua kasih sayang padanya… kau lupa bahkan tak akan pernah tau apa yang telah dikorbankan agar tak ada lagi dengki padamu.
Jangan takut wahai saudara, akan tiba saatnya nanti Adik kan pergi dari pandangan matamu. Selamanya.

“If you tell the truth, you don’t have to remember anything.”
Mark Twain

Banyak hal terlintas dalam benak saya yang terkadang kosong melongpong, kadang overload dengan pemikiran – pemikiran yang tidak terlalu penting jika direnungkan di kemudian hari. Malah terkadang saya tidak terlalu banyak berpikir, ya… lakukan saja, ya… katakan saja. Terlalu kekanak-kanakan. Kejujuran? Semakin ditelusuri, semakin tersamar kesan jujur atau mungkin polos. Lebih kepada kepribadian yang terlampau lambat untuk memiliki sisi kedewasaan. Terlalu ceplas ceplos pada sebagian orang membawa petaka yang berlarut. Disana berbisik kalau saya harus jadi diri sendiri. Di sudut lain bilang saya harus bisa menempatkan dan mengontrol diri. Jadi apa dibenarkan sebuah istilah “kebohongan putih” yang katanya untuk membuat keadaan tetap baik. Apa disahkan di negara ini? Bukan kah bohong ya tetap saja bohong. Kejujuran itu memiliki harga mati dan harga yang sangat mahal. Pernah berkata jujur tetapi malah kehilangan sahabat? karyawan terbaik? atau mungkin kekasih? Seringkali begitu. Orang lebih mudah menerima sebuah kebohongan. Entah itu hitam atau putih. Mereka lebih nyaman hidup dalam kebohongan. Begitu menderita ketika harus mendengar atau menerima sebuah kejujuran. Padahal di kitab atau di buku manapun selalu terungkap. “Jika ya, katakan ya dan jika tidak, katakan tidak.” Itu berarti tidak ada istilah bohong putih. Kita yang menciptakan itu. Untuk menghapus perasaan bersalah mungkin. Membenarkan kesalahan yang kita lakukan sendiri. Atau supaya segala hal tidak baik yang kita lakukan menjadi suatu kewajaran. Semua orang dilahirkan dengan keahlian untuk berbohong. Saat kita kecil, itu naluriah terjadi. Beranjak dewasa seharusnya kita semakin bisa menguasai diri untuk tidak berbohong, tapi tidak demikian. Kita jadi semakin terbiasa untuk berbohong untuk menyelamatkan diri. Cari aman sendiri. Yang penting dengan begitu bisa hidup damai, meskipun itu fana. Pernah mendengar atau mengetahui tentang orang yang benci ketika dia harus berkata jujur? Pasti pernah, mungkin kita sendiri , juga saya pernah dilintasi pemikiran seperti itu. Mengapa jujur menjadi hal yang sepertinya sulit untuk dilakukan dan diterima. Mungkin itu disebabkan karena kita telah terbiasa dan dibiasakan dan membiasakan diri kita sendiri dalam “kebohongan putih.” Saya tidak terbiasa menikmati sebuah kebohongan atau apalah itu yang katanya “kebohongan putih.” Saya lebih bisa menerima sebuah kejujuran yang katanya itu seringkali sulit diterima. Memang sulit, sampai sekarang saya masih terus belajar supaya dapat menerima sebuah kejujuran dengan mudah daripada menikmati kebohongan. Saya membiasakan diri saya untuk berkata sejujurnya. Yahh… meskipun saya tahu kalau konsekuensinya mungkin akan membuat saya kehilangan segalanya. Setidaknya, apa yang saya rasakan setelahnya jauh lebih mendamaikan. Rasanya terlepas dari beban. KIta seringkali berpura untuk menjaga lisan atau perilaku kita. Tanpa kita sadari kita sangat sering melakukan kebohongan. Hmmm…. Aneh memang, tapi seringkali kita melakukan itu untuk menjaga perasaan orang lain, menjaga hubungan kita dengan orang lain… yaaa… secara kita kan katanya makhluk sosial. Sering sekali kita menjadi dijauhi atau dikucilkan karena kita katanya “terlalu” jujur. Ah.. yang benar saja, masa kejujuran itu harus dibatasi. Mungkin bukan dibatasi, tapi kita harus belajar menyampaikan sebuah kejujuran dengan cara yang dapat lebih diterima oleh orang lain. Sehingga tidak ada lagi yang namanya “kebohongan putih” atau apalah nama lainnya. Ya, itulah sebabnya, terkadang saya lebih suka diam daripada bicara. Karena kalau saya bicara ada saja orang yang tidak menerima dan katanya saya ini “menghina” lah.. “mengejek”lah…”mengkritik”lah… jadi intinya sih mereka tidak terima. Waktu itu saya pernah bilang pada seseorang teman kalau dia itu bau badannya kurang enak, ya karena saya tidak berpikir mengejek atau menghina saya bilang saja terang-terangan “Ih, kamu bau asem”, hahaa…. dia tersinggung sepertinya. Ya, karena saya lumayan sering mengomentari penampilan dia. Singkat cerita, ya mungkin dia berpikir saya ini tidak menerima dia apa adanya sebagai seorang teman. Nah, inilah dimana saya jujur tapi malah ditinggalkan teman saya. Bukannya lebih baik saya jujur, jadi dia bisa memperbaiki. Menurut saya sih, jujur saya itu ya karena saya perhatian saja. Tapi ya diterimanya kan beda, itu dia. Orang lebih suka dibohongi dipuji dipuja meskipun itu palsu. Nah, sekarang bagaimana dengan saya yang mendengar kejujuran dari orang lain? hhaahaa… Saya sih seringnya diam, bagaimana reaksi orang yang jujur itu? Sudah dapat ditebak. Dia berpikir kalau saya ini marah dan tidak terima dengan apa yang dia katakan. Ah, memang dia itu dukun ya, bisa baca pikiran orang. Saya lebih baik diam dan memikirkan apa yang dia katakan. Direnungi, kira-kira bagaimana baiknya supaya saya bisa berbenah diri. Ahh… kadang memang suka banyak dukun dadakan, paranormal pembaca pikiran. Orang tua saya saja belum tentu mengenali saya dengan baik, koq ini ketemu kemarin sore, bersikap seolah tahu bagaiman saya. Hahahaa…. hebat. Ya itulah… intinya sih… kita dikelilingi oleh kebohongan – kebohongan putih (*katanya). Terserah kita mau menyesuaikan diri atau tetap jujur pada diri sendiri. Karena apapun bentuknya, kejujuran itu faktanya lebih sulit diterima nalar. Apalagi kejujuran yang sebelumnya diawali kebohongan. Pasti akan melukai dan menyayat hati. Sekian. 😛

c7dc15f20fdb1512aee4849e2facf639