” Tak peduli bukan berarti apatis. Apatis bukan berarti tak peduli. “

Kata orang segala sesuatu perlu latihan yang diulang – ulang…. Seperti anak kecil yang belajar berjalan , jatuh berkali-kali.. tetap berusaha berdiri.. berjalan lagi.. sampai akhirnya lupa bagaimana sulitnya proses belajar. Bagaimana sakitnya saat jatuh dan mencoba berdiri kembali untuk melangkah.
Sama halnya saat kita berjuang untuk bersikap tidak peduli atau mungkin apatis terhadap sesuatu hal yang memang harus kita hadapi dengan sikap itu. Bukan jadi seperti orang yang bersikap anti sosial. Tapi bagi saya apatis hati. Apa coba apatis hati? Hahaaa…

Saya sih orangnya gampang banget suka sama orang, katanya sih mudah jatuh cinta. Secara kan yah…pria hanya butuh sekian milidetik untuk jatuh cinta, dan wanita juga membutuhkan waktu yang tidak lama untuk memutuskan akan jatuh hati atau tidak, hanya 3 menit! Kebayang kan yah… meskipun ga sepenuhnya bener juga…
Berlatih bersikap sewajarnya…. Agak sulit untuk saya yang notaben nya penuh cinta, hahaaa..

Tapi saya beruntung koq, rasanya lambat laun perasaan itu dengan sendirinya apatis… memang sih tampak di luar seperti penuh kasih sayang…tapi dalamnya rasanya mulai dingin yah… entah hanya perasaan, entah sebenarnya mindset yang saya bentuk perlahan.
Belakangan saya semacam kehilangan selera untuk melakukan sesuatu yang serius.. masih bisa bedain sih mana pria mana wanita, mana yang menarik mana yang tidak… tapi entah kenapa. Ada sesuatu yang menolak dengan keras di dalam diri.

Sepertinya benteng itu tiba – tiba muncul…
Iyah, mungkin… saya membentengi diri sendiri…
Kelihatannya saja saya manis manja grup… dalam hati enggan rasanya untuk terlibat lebih jauh…
Saya sendiri masih belum paham apa sebenarnya… cara mendefinisikan nya…
Tapi yah, kurang lebih begitu…

Sinetron karya anak bangsa… iya betul, produksi asli Indonesia. Kadang underestimate kalau sekedar dengar dari cerita orang tentang sinetron Indonesia. Katanya sinetron remaja , tapi rasanya kurang layak dipertontonkan untuk kalangan remaja. Memberikan contoh yang rasanya kurang baik untuk budaya timur yang sudah mendarah daging sejak jaman Pithecanthropus erectus (Java Man). 😛
Entah kenapa koq rasanya sudah menjadi budaya timur bumbu barat, atau budaya barat yang dipaksa diadaptasikan agar ketimuran. Seolah ingin menyatukan air dengan minyak.. secara ilmu pengetahuan sih bisa saja. Kita hanya perlu sabun. Tapi kebudayaan yang berbeda bukan sekedar seperti minyak dan air. Perlu keterbukaan wawasan dan kematangan emosional setiap pribadi yang disuguhkan hal tersebut. Kemampuan filtrasi yang tidak biasa bahkan mungkin diatas rata-rata.
Kurang lebih sih, banyak yang merasa kalau sinetron Indonesia kurang berkualitas dalam beberapa hal, tapi ada juga bahkan mungkin banyak yang baik bahkan sangat baik kualitasnya. Entah itu dari segi pemeran nya, jalan cerita, tema, latar belakang, dll. Jujur sih, saya tidak terlalu menggilai sinetron. Maka dari itu saya jadi tidak terlalu hafal dan tau sinetron terbaru, sinetron lawas, sinetron yang seru , dll. Hanya sebatas mendengar cerita orang, tentang kesan mereka menonton sinetron favorite nya, atau melihat aktor / aktris idola mereka bermain di sinetron itu. Kalau memang benar bagus saya pasti tonton dari awal sampai akhir, tapi kalau ditengah jalan agak membosankan dan stagnan, kemungkinan saya berhenti menonton ya cukup besar. Paling menonton episode terakhirnya saja. Setidaknya, tau cerita awal, pertengahan dan akhir. Hahaa,,, secara sekarang saya merasa jadi manusia yang agak sedikit sibuk dengan berbagai kepentingan negara… 😀 (*lebay) jadi intensitas nongkrong di depan tv banyak berkurang.
Kembali ke sinetron Indonesia, kemarin sih nonton sinetron yang lumayan bagus. Pesan moralnya ada. Selain itu, sepertinya ide ceritanya berasal dari surat – surat R.A. Kartini. Hampir lupa gitu kan, dan hampir tergerus jaman dan kemajuan teknologi. Padahal jaman SD dulu jadi juara pertama lomba busana Kartini. Dan ditanyalah bukunya yang terkenal. Seinget saya sih, saya ga bisa jawab, karena memang belum tau. Waktu itu saya kelas 1 SD. Alhasil, saya inget sampai sekarang “Habis Gelap Terbitlah Terang”
Kembali ke sinetron yang saya tonton, singkatnya, di akhir cerita kan suka ada tulisan – tulisan penutup.. adalah satu kalimat yang membuat saya memutuskan kalau yang saya tonton sinetron yang cukup baik..

Kita bisa menjadi manusia seutuhnya dengan terus berusaha menjadi wanita seutuhnya
– R.A. Kartini-

Dan mendadak jadi ingat kalau saya ini juga penerus Kartini, secara saya ini kan wanita.
Saya merasa belum seutuhnya wanita, berarti saya ini masih setengah manusia… hmmm….  artinya harus terus berusaha dan berjuang dalam hidup…