Karma is like a shadow… it always follow your step …
Maybe it will disappear when light comes…
But it will come to you when the dark comes too
Because we live between the light and the dark side.
We never live in the dark forever… and in the light forever..
Like a day and night..
Always comes until you die…

-unknown-

Hari ini saya merasa begitu… ahhh entahlahh…
Saya tak menyangka, ternyata hujan turun seperti disaat yang tepat
Begitu erat ikatan ini dengan alam semesta…
Dia turun begitu deras…
Saya begitu menyukai hujan ini
Karena dia menyamarkan segalanya… seperti Charlie Chaplin
Yang senang berjalan dalam hujan..

Ahh,,, ini gila…
entah sejak kapan saya jadi pandai membual…
pura-pura ikhlas padahal tidak.. yah, tak apalah berpura daripada tidak mencoba sama sekali.
Seandainya bisa dipahat dalam hati supaya abadi dan saya tidak mati.. mungkin akan saya lakukan, sayangnya… itu hanya sebatas andai,
Itulah mengapa saya ukir kata itu di sebuah simbol keabadian
terus berputar tak terputus…

“Sunshine”

210313

210313

Segelas Kopi di Siang Bolong (Bag. III)

Ahh… kopi saya kali ini terasa berbeda dari yang biasanya.. Mengapa? Membuat angan saya menerawang begitu jauh. Entah dia sampai ke tepian atau tidak. Apa sebenarnya yang membuatnya terasa begitu berbeda. Hmmm…. Sudah hampir habis, tapi saya masih kebingungan kenapa rasa kopi ini berubah… Tidak sedikit, perbedaan nya sangat terasa di lidah. Tidak banyak, karena masih samar kadang hilang. Oh… benar. Rasanya lebih pahit dari biasanya. Entah takaran seperti apa. Sedikit lebih pahit atau jauh lebih pahit dari kopi saya yang lalu. Rasa kopi ini lebih betah berlama-lama menempel di ujung lidah, tidak-tidak… di seluruh lidah tepatnya. Aahh, sepertinya ini sebabnya, ini masih terlalu pagi untuk segelas kopi… pasti karena terjaga cukup lama tadi malam. Saya lupa ini kopi untuk di siang nanti… Sudah lah tak mengapa.. sudah hampir habis masa untuk kopi hitam ini kembali ke dalam gelas nya. Belum ada sedikit makanan masuk ke perut kosong ini dan yang dikecap lidah ini. Pantas saja, rasanya sungguh kentara. Pahit… semakin lama terasa sangat pahit. Agaknya siklus hidup saya beberapa bulan terakhir agak kacau… Ini juga mungkin yang terasa di lidah ketika kopi hitam ini diminum terlalu pagi. Banyak ampas dan kopinya sendiri sudah hampir sama.. perlu kehati-hatian supaya ampasnya tidak ikut terminum. Supaya dapat terasa bahwa kopi hitam yang terlalu dini ini masih memiliki kenikmatan tersendiri. Ahhh… jadi apa korelasinya dengan hidup kita … Ada? Entahlah… Setiap apa yang kita lakukan selalu punya filosofinya sendiri.. Seperti tentang rahasia yang semua orang pasti miliki. Nama, peristiwa, kenangan yang tersimpan jauh disudut hati. Tak ada seorang pun yang tahu, mirip seperti kopi hitam yang terlalu cepat saya teguk kenikmatannya… Tak ada yang tahu rasa yang sebenarnya seperti apa… Karena katanya, beda lidah beda sensasi rasa si kopi hitam ini. Meskipun pahit tapi selalu kita habiskan hingga tinggal ampasnya lalu dibuang. Sama seperti hal-hal yang entah begitu betah berlama – lama dalam ingatan dan dalam nurani. Mungkin memberi rasa pahit, tapi kita menikmatinya hingga tegukan terakhir. Kita bisa berhenti , memutuskan berhenti untuk membuat kopi hitam. Menolak keinginan untuk meminum segelas kopi hitam, atau sekedar mencicipinya. Iyaa… kita bisa melakukannya sesekali. Tapi, tak bisa selamanya. Kopi hitam bagaikan nikotin dalam sebatang rokok. Itu yang saya rasakan. Sekian lama berhenti, saat memulai kembali. Kita seperti terhipnotis lebih dalam karena sensasi rasa si kopi hitam.  Ahh… entah apa yang saya urai ini. Mungkin ini karena insomnia saya yang tiba-tiba datang tadi malam dan malam-malam sebelumnya. Entah juga karena segelas kopi hitam yang terlalu pagi untuk dinikmati. Begitulah hidup. Pahitnya seperti segelas kopi hitam. Tetap kita nikmati meski pahit, hingga nanti tersisa ampas, dan mau tidak mau kita buang… atau kita simpan dan kumpulkan namun tetap tak bisa kita jadikan segelas kopi hitam yang penuh kenikmatan lagi. Jika bisa rasanya tak akan lagi sama. Ahhhh…. ini benar-benar kopi hitam yang seperti obat psikotropika… membuat saya menulis melantur yang entah inti dan tujuan nya apa… memberi inspirasi di tengah rasa ketagihan yang menyiksa. Apalah ya apalahh ituu… hahaa… ternyata bukan rasa kopi ini yang berubah. Hanya tubuh saya yang terserang insomnia menerima si kopi hitam dengan cara berbeda… tapi saya tetap menyukai dan menikmatinya.. ahh, buang saja rasa yang kurang bersahabat dengan lidah, toh itu hanya sementara.. masih ada kenikmatan meskipun sedikit yang diberikan kopi hitam yang terlalu dini ini.. Kopi hitam akan tetap menjadi kopi hitam, akan tetap hitam (selama tidak ditambah susu) hehe… Sepertinya saya terlalu menikmatinya, tidak saya sadari saya meminum sedikit ampasnya , entah banyak… saya tidak tahu. Rasanya sekarang ampasnya menempel di lidah, mengendap ke dalam rongga perut, mengerak dan akan tinggal di dalam tubuh saya untuk waktu yang cukup lama… Tak apa, saya menyukainya… aromanya telah merasuk ke aliran darah. Bersemayam dalam angan. Saya jatuh cinta pada si kopi hitam, Sssttt … biarkan serpihan hati ini saja yang tahu kalau saya telah memutuskan untuk jatuh cinta setiap saat pada si kopi hitam… meskipun pahit. Segelas kopi hitam, berjuta makna…